InspirasiPopuler

Wanita Lebih Bahagia Saat Single, Benarkah?

Di Indonesia berapa banyak wanita yang merasa dikejar-kejar oleh usia untuk menikah. Indonesia adalah sedikit dari negara-negara yang masih memiliki batasan-batasan usia menikah, khususnya untuk para wanita, memiliki pasangan dan membangun keluarga. Pandangan ini membuat wanita-wanita yang telah berada di ambang usia menikah merasa tidak tenang dan khawatir saat mereka belum juga memiliki pasangan. Romantis dan kebahagiaan berumah tangga masih menjadi salah tolak ukur bahagia dalam hidup.

Sumber: www.freepik.com

Berbeda dengan wanita-wanita di Indonesia, penelitian pada wanita-wanita Inggris menyatakan bahwa 61 persen wanita merasa bahagia menjadi single, sedangkan hanya 49 persen laki-laki merasakan hal yang sama. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa sebanyak 75 persen wanita tidak berusaha mencari pasangan atau berusaha menjalin hubungan selama satu tahun belakangan, sedangkan laki-laki dalam kondisi yang sama hanya sebanyak 65 persen. Wanita antara rentang usia 45 tahun hingga 65 yang merasa bahagia menjadi single dengan persentase sebanyak 32 persen, sedangkan laki-laki hanya 19 persen.

Sumber: www.freepik.com

Hal ini diduga disebabkan wanita bekerja lebih keras saat menjalin sebuah hubungan. Dr. Emily Grundy dari Universitas Essex Inggris mengatakan bahwa wanita harus berusaha dan berkerja lebih keras dari pada laki-laki saat ia menjalin sebuah hubungan. Jadi, bagi wanita berada dalam sebuah hubungan berarti Ia harus melakukan banyak pekerjaan. Dr. Emily juga mengatakan bahwa laki-laki lebih cenderung mengandalkan pasangannya sementara wanita lebih cenderung kepada teman-teman dekatnya dan lingkaran sosialnya.

“Ada bukti bahwa wanita menghabiskan lebih lama untuk tugas rumah tangga daripada pria dan saya pikir mereka juga melakukan pekerjaan yang lebih emosional, jadi mereka mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga dan memasak dan hal-hal serta pekerjaan yang lebih melibatkan emosional. Tentu, ada temuan umum dari banyak penelitian bahwa wanita yang tidak memiliki pasangan cenderung melakukan lebih banyak aktivitas sosial dan memiliki lebih banyak teman.” Kata Grundy kepada The Telegraph.

Sumber: www.pixabay.com

Professor Bella DePaulo seorang peneliti di bidang sosial Universitas California, Santa Barbara. Ia melakukan penelitian tentang “Single”, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana orang melihat lajang, dan bagaimana menjadi ‘lajang’ mempengaruhi orang. Ia memaparkan bahwa ia menemukan begitu banyak keuntungan dengan menjadi lajang. Ia juga mengatakan bahwa menjadi lajang membuat wanita memiliki waktu untuk kreativitas, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi lajang juga membuka kesempatan untuk wanita memulai kehidupan yang ia inginkan, seperti berpergian atau traveling, melakukan hal-hal yang sesuai dengan passionnya dan melakukan hal-hal yang menurutnya lebih berarti bagi kehidupannya.

Nah, kamu, wanita Indonesia, bagaimana menurutmu?

You are special, you are unique, so don't try to copy others.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close