Traveling

Suku Tengger: Keharmonisan Alam, Manusia dan Tuhan.

Suku Tengger – Indonesia adalah negara raksasa yang memiliki keanekaragaman suku bangsa, hingga kini tercatat terdapat 1.340 suku bangsa yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Semua suku bangsa meiliki keunikannya tersendiri, salah satunya Suku Tengger. Suku Tengger adalah orang-orang yang hidup di sekitar lereng Gunung bromo. Gunung bromo adalah titik temu dari empat kabupaten yang ada di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Suku Tengger atau yang sering disebut ‘Masyarakat Suku Tengger’ memiliki ciri khas adat istiadat sendiri yang berbeda dari adat istiadat Jawa, salah satunya adalah dialek bahasa Jawa Tengger. Saat ini suku tengger telah menyebar ke beberapa daerah di sekitar Gunung Bromo.

Legenda Suku Tengger

Sumber: www.yukepo.com

Legenda Suku Tengger bermula dari dua orang tokoh yaitu, Rara Anteng dan Jaka Seger. Jaka Seger adalah seorang pengembara yang bertemu secara tidak sengaja dengan Rara Anteng yang saat itu tinggal di sekitar gunung Bromo. Rara Anteng adalah putri dari Kerajaan Majapahit yang pergi meninggalkan istana karena saat itu keadaan kerjaan yang tidak aman. Mereka berdua kemudian menikah dan memiliki 25 orang anak, dan sebagai bentuk syukur kepada Sang Hyang Widhi, Rara Anteng dan Jaka Seger mengorbankan anak terakhir mereka untuk dimasukkan ke dalam kawah gunung bromo. Konon legenda ini adalah awal mula suku Tengger. Tengger sendiri diambil dari nama kedua tokoh, ‘teng’ dari Anteng dan ‘ger’ dari Seger. Beberapa sumber mengatakan makna dari Tengger adalah ‘tengering budhi luhur’ atau sifat-sifat dan budi pekerti luhur.

Gunung Bromo

Bagi masyarakat Tengger, Gunung Bromo adalah bagian penting dari kehidupan sakral mereka. Gunung Bromo dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur. Dalam kehidupannya masyarakat Tengger mengenal ‘Trihita karana’ yaitu tiga hubungan yang harmonis, pertama, hubungan kepada yang Maha Kuasa, kedua, hubungan kepada alam semesta dan ketiga hubungan antar sesama manusia. Maka saat terjadi erupsi, masyarakat suku tengger menganggap itu sebagai bagian dari cobaan yang harus dihadapi dan menjadi bahan evaluasi. Masyarakat suku tengger hidup dalam keharmonisan dengan menjaga tiga hubungan penting tadi dengan salah satu upayanya adalah melakukan upacara adat.

Upacara Adat Karo

Sumber: www.arsitek.in

Upacara Adat Karo adalah ‘lebaran’ bagi suku tengger yang dimulai dengan melakukan jalan kaki mengelilingi desa diiringi musik khas masyarakat Tengger, mengenakan pakaian adat serba hitam dan membawa benda-benda pusaka. Pada pelaksanaan upacara Karo setiap rumah di desa-desa di gunung Bromo akan memasang aneka macam janur yang menambah semarak suasana. Upacara Adat Karo adalah upacara terbesar suku Tengger yang diadakan pada bulan Karo pada kalender Tengger, Karo sendiri dalam bahasa Jawa berarti dua. Makna Upacara Karo bagi masyarakat Tengger sendiri adalah kembali kepada kesucian atau ‘Satya Yoga’. Sama halnya dengan lebaran, pada pelaksanaan Upacara Adat Karo terdapat tradisi saling kunjung. Tradisi saling kunjung ini dibagi menjadi 2 yaitu, masyarakat berkunjung ke para pemangku adat desa, lalu secara bergantian pemangku adat berkunjung ke rumah para masyarakat.

Upacara Kasada

Sumber: www.pasuruankabmuseumjatim.com

Upacara Kasada adalah upacara adat yang dilakukan pada bulan kedua belas (Kasada). Upacara ini dilakukan pada bulan purnama yang dimulai sejak sore hari hingga pagi keesokan harinya. Pada upacara Kasada dilakukan pemberian sesajen pada kawah gunung Bromo. Sesajen dibentuk menjadi lingkaran menggunakan bambu dan isi dari sesajen adalah 30 macam buah dan kue tradisional yang disebut ongkek. Upacara ini adalah ungkapan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas kasih sayangnya kepada umat manusia.

You are special, you are unique, so don’t try to copy others.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close