Bisnis

Pemerintah Akan Bekerjasama Dengan Mamikos Dalam Program Kartu Pra-kerja

AKUPAHAM.COM – Pencari kerja dapat segera lebih mudah untuk menemukan tempat tinggal ketika mereka mengambil kelas kejuruan di bawah program kartu pra-pengangguran di luar kota asal mereka, mengikuti kemitraan terbaru pemerintah, kata seorang pejabat presiden.

Penasihat ekonomi khusus Kantor Kepresidenan (KSP) Denni Puspa Purbasari mengatakan setelah diskusi publik pada hari Selasa bahwa pemerintah akan membantu mempromosikan kos-kosan (kamar kos) dari daftar aplikasi Mamikos untuk memudahkan akses perumahan bagi penerima kartu pra-kerja.

“Kami juga mendesak investor di belakang Mamikos untuk berinvestasi lebih banyak dalam memperoleh rumah tinggal dan mungkin mengubahnya menjadi seperti properti mini-Airbnb,” katanya.

Dia menyatakan harapan bahwa skema semacam itu akan menarik pelamar di kabupaten yang kurang tersentralisasi untuk mengajukan program dalam kelompok dan menyewa kos-kosan sebelum mereka mengambil kelas di pusat-pusat pembelajaran.

Pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah mengalokasikan Rp 10,3 triliun

Sumber Foto: kumparan

Kartu-kartu pra-kerja bertujuan untuk membantu para pencari kerja dengan memberikan mereka akses ke pelatihan ketika pemerintah berupaya untuk mengatasi kekurangan pekerja terampil di negara ini. Pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah mengalokasikan Rp 10,3 triliun (US $ 752,24 juta) untuk program tahun ini.

Biaya program pelatihan diperkirakan antara Rp 3 juta dan Rp 7 juta untuk setiap pemegang kartu pra-kerja, yang termasuk tunjangan makan bulanan Rp 500.000

Denni berharap para peserta dapat mengambil ide dari tinggal dan menjelajahi kota baru dan mengambil inspirasi saat kembali ke kota asal mereka untuk mendirikan bisnis, di antara contoh lainnya.

“Ini akan menciptakan ekosistem belajar dan bertukar ide,” katanya.

Kesenjangan keterampilan telah menjadi masalah nyata dalam angkatan kerja negara karena sistem pendidikan telah gagal menghasilkan lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri.

Sebuah studi tahun 2018 oleh McKinsey Global Institute dan Bank Dunia memperkirakan akan ada kekurangan 9 juta pekerja terampil dan semi-terampil di sektor digital di Indonesia antara 2015 dan 2030.

Saat ini, data Statistik Indonesia (BPS) mengungkapkan bahwa 6,24 persen dari 6,82 juta orang di negara ini adalah lulusan universitas. Tingkat pengangguran untuk lulusan sekolah kejuruan, yang melatih siswa untuk pekerjaan tertentu, paling mengkhawatirkan pada 8,63 persen dari angkatan kerja pada Februari 2019, diikuti oleh lulusan sekolah menengah atas sebesar 6,78 persen.

Sumber: The Jakarta Post

Tags

Nanda Ang

Love and Work, Work and Love, that's all there is. -Sigmund Freud-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close