Populer

Love for Sale 2 (2019): Cinta Sebagai Kebutuhan Primer dan Sekunder

AKUPAHAM.COM Setelah berhasil menaruh Love for Sale (2018) pada ingatan banyak orang dengan keunikannya, kini Andibachtiar Yusuf kembali dengan sekuelnya, Love for Sale 2 yang tayang bertepatan dengan perayaan Halloween, membuat film dengan tagline “the most horror love story” ini tampak semakin menakutkan. Karakter Arini (Della Dartyan) yang ‘menakutkan’ kali ini mempunyai klien baru, Indra “Ican” Tauhid Sikumbang (Adipati Dolken), yang membawa masalah dan cerita yang berbeda, baik kepada penonton, maupun kepada Arini.

Ican bukanlah Richard Achmad (Gading Marten). Ia tidak terkurung dalam kesendirian dan kehidupan yang di situ-situ saja bersama seekor kura-kura seperti karakter pendahulunya. Ia adalah pria tiga puluhan tahun yang bebas, hidup merdeka di atas pilihannya sendiri. Tidak ambil pusing soal pasangan hidup, yang penting baginya mungkin hanya teman tidur.

Ia juga tidak mempunyai latar cerita sekuat Richard yang menjelaskan mengapa ia adalah diri dia yang sekarang. Dunia Richard yang sempit, sikap kakunya terhadap sekitar, pilihan lagu dan bahkan hewan peliharaannya yang menggambarkan betapa tertutup dan lambannya Richard dalam menatap masa depan, semua merupakan akibat dari kegagalan kisah cintanya di masa lalu.

Pun tidak ada keunikan tertentu yang membekas, seperti Richard dengan kegemaran menggaruk bokongnya yang sangat khas. Karakter Ican nampak ‘polos’, agak sulit untuk penonton menyisakan ruang ingatan untuknya. Nampaknya, karakter Ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno), akan lebih mudah untuk diminati ketimbang dirinya.

Karakter Ibu yang terkadang menyebalkan, tetapi dibangun dengan kuat dan diperankan dengan sangat baik sehingga penonton pun memahami dunianya, mengerti apa yang ia mau dan mengapa. Seorang Ibu yang terus memaksa anak keduanya, Ican, untuk menikah dengan wanita yang tepat. Tepat sesuai kriterianya, sehingga ia bahagia. Karena, sepertinya, ia belum bisa bahagia dengan pilihan dua anak lelakinya yang lain. Ia tidak mau melepas anak lelakinya pada wanita yang ‘salah’, karena ia paham betul rasanya kehilangan.

Primer dan Sekunder

Ibu Rosmaida nampaknya masih memandang orang secara hitam putih. Benar dan salah. Baik dan tidak. Sekali jadi menantu dengan status janda beranak satu, tidak akan diberi hati walau terus berusaha menyenangkan hati Ibu. Kalau tidak cantik Ibu juga tidak mau. “Yang penting kece,” kata Ibu. Harus sempurna pokoknya. Seperti Arini, yang sebenarnya hanyalah karakter pesanan Ican sendiri. Mungkin memang hanya Love Inc yang menyediakan secara instan apa yang menjadi keinginan manusia semata, bukan apa yang benar dibutuhkannya.

Sumber: Tabloid Bintang

Kehadiran Arini pada Love for Sale 2 hanyalah sebagai peredam ego saja. Dia datang membawa kebahagiaan pada suatu tempat yang sebenarnya sudah memilikinya, namun tidak begitu nampak karena ada yang meminta lebih. Ada yang meminta kehadiran seorang tanpa celah untuk dicinta, padahal siapa pula manusia yang tidak kenal celah. Ada yang memaksakan cinta untuk datang segera agar tidak didahului bertambahnya usia, padahal cinta tidak mempunyai batas maksimal usia. Arini hanyalah media untuk memuaskan berbagai keinginan manusia dengan segala standar yang mereka ciptakan sendiri tentang cinta dan kebahagiaan.

Lain halnya makna Arini bagi Richard pada Love for Sale. Richard tidak meminta apa-apa. Ia tidak memaksa untuk segera menikah. Ia tidak merasa harus mencari sumber kebahagiaan lain di luar dunia sempitnya. Ia hanya dipaksa oleh masa lalunya untuk tidak berjalan ke depan terlalu banyak. Tetapi, justru di sana lah Arini datang sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar keinginan.

Ibarat belum punya rumah, Arini datang sebagai rumah bagi Richard. Namun, bagi Ican, Arini datang bak istana bagi sebuah keluarga yang sebenarnya sudah punya rumah, namun belum bisa hidup bahagia jika belum tinggal di istana. Padahal, untuk menjadi bahagia pun adalah sebuah pilihan. Ibu Rosmaida mungkin bisa bahagia, jika saja ia tidak melulu berkiblat pada berbagai stereotip yang beredar. Stereotip bahwa usia kepala tiga sudah termasuk usia ‘wajib nikah’, atau stereotip menantu idaman.

Memang tidak sekuat dan seunik prekuelnya, namun Love for Sale 2 cukup memberi makna sebagai pembanding bahwa cinta juga kebutuhan, bukan semata keinginan. Ia akan datang tepat di saat seseorang benar-benar membutuhkannya. Mungkin memang hanya waktu yang akan menentukan. Pun pada akhirnya, manusia sendiri yang menggunakan kebebasannya dalam menentukan pilihan atas kebahagiannya. Bukan begitu, Arini?

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close