Sains dan Teknologi

Kenapa Luar Angkasa itu Gelap?

Luar angkasa  -itu berwarna hitam dan gelap. Itulah pernyataan yang sering kali kamu dengar dari orang-orang di sekitar kamu, maupun gambar-gambar yang kamu lihat tentang luar angkasa. Bagaimana pun, banyak orang yang mempertanyakan ‘bagaimana luar angkasa bisa gelap padahal di penuhi bintang-bintang?.’ Seperti yang kamu ketahui Matahari adalah bintang yang sangat besar yang memberikan cahayanya kepada Bumi sehingga terjadilah siang hari. Lalu bagaimana mungkin luar angkasa yang memiliki banyak bintang bisa terlihat gelap dan hitam? Sedangkan satu Matahari saja sudah cukup menerangi Bumi!

Luar  Angkasa dan Bintang

Kenapa luar angkasa itu gelap?
Luar Angkasa- Pixabay

Bintang adalah benda langit yang dapat memancarkan cahayanya sendiri, serta menghasilkan energinya sendiri. Jadi, matahari digolongkan sebagai bintang karena dapat memancarkan cahaya sendiri. Menurut ilmu astronomi bintang terlahir dari gumpalan awan debu yang memanas setelah proses kompresi gas, yang kemudian menjadi protobintang dan menjadi bintang suatu hari nanti. Jumlah bintang yang berada di luar angkasa sangatlah banyak, para ahli memperkirakan jumlah bintang yang ada di galaksi Bima Sakti sendiri berkisar 300 miliar.

Walau demikian bintang-bintang ini memiliki jarak yang sangat jauh dari Bumi. Jarak suatu bintang ke bintang lainnya dan ke Bumi dapat mencapai jutaan tahun cahaya. Bintang yang semula terang benderang cahayanya kemudian  menjadi redup dikarenakan jauhnya jarak. Hal ini pulalah yang menyebabkan bintang-bintang yang begitu banyak itu tidak dapat sepenuhnya menerangi luar angkasa. Tidak seperti Matahari yang memiliki jarak cukup dekat dari Bumi untuk menyinari dan memberi kehangatan pada Bumi.

Teori Big Bang

Kenapa luar angkasa itu gelap?
Ilustrasi teori Big Bang- Pixabay

Sebagian besar dari kamu tentu sudah mengetahui apa itu Teori Big Bang. Teori Big Bang dikemukakan oleh seorang ahli astronomi bernama Georges Lemaître pada tahun 1927. Beliau mengatakan bahwa alam semesta semula hanyalah sebuah titik yang kemudian berkembang dan membesar hingga menjadi seperti alam semesta yang ada sekarang ini. Teori ini kemudian didukung oleh penemuan seorang ahli astronomi yang bernama Edwin Hubble dua tahun setelah Teori Big bang dikemukakan. Edwin Hubble menyadari bahwa galaksi lain yang berada di dekat galaksi kita menjauh. Bahkan galaksi yang berada paling jauh dari kita menjauh lebih cepat dari pada galaksi yang berada di dekat kita. Alam semesta kita ini diperkirakan berusia 13,8 miliar tahun, dan selama itu pula ia terus berkembang.

Kesimpulannya, hingga saat ini alam semesta kita masih berkembang dan terus meluas. Bintang-bintang dan galaksi yang semula dekat dengan kita lama kelamaan akan menjauh. Hal ini kemudian akan membuat bintang-bintang yang semula dapat kita lihat dari Bumi menjadi terlihat semakin kecil dan kemudian mungkin menghilang atau tidak terlihat sama sekali dari Bumi. Karena itu pulalah bintang-bintang ini hingga kini belum mampu menyinari luar angkasa.

Jika kamu merasa penjelasan di atas belum sepenuhnya menjawab rasa penasaran kamu, ada baiknya untuk membaca buku-buku terkait ilmu astronomi lainnya ya! Baca juga artikel seputar sains dan teknologi di sini! 

Sumber: Science NASA, Kok-bisa, Sky and Telescope.

Tags

You are special, you are unique, so don't try to copy others.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close