Sains dan Teknologi

Kenapa Langit Berwarna Biru?

Langit berwarna biru karena pantulan warna dari laut yang juga biru. Apakah kamu pernah mendengar pernyataan seperti itu? Sebagian dari kamu mungkin juga percaya pada pernyataan tersebut dan sebagian dari kamu tidak. Ya, pernyataan tadi adalah mitos. Lalu bagaimana langit siang bisa berwarna biru? Kemudian berubah menjadi jingga dan merah di sore hari?

Penyebab Langit Berwarna Biru.

Kenapa Langit Berwarna Biru?
Gelombang Cahaya- Pinterest

Seperti yang tampak dan kamu ketahui bahwa warna cahaya adalah putih. Padahal warna putih dari cahaya ini terbentuk dari warna-warna yang sering disingkat menjadi MEJIKUHIBINIU atau merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Warna-warna itu adalah warna dari pelangi yang sering kamu lihat setelah hujan turun dan biasa disebut spektrum cahaya tampak.

Pada dasarnya energi membentuk suatu gelombang, dan cahaya adalah salah satu dari energi, maka cahaya juga membentuk suatu gelombang. Setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda. Seperti, merah yang memiliki gelombang panjang, dan biru yang memiliki gelombang pendek. Dan yang juga perlu diingat bahwa semua cahaya berjalan lurus, kecuali bertemu kaca yang kemudian akan dipantulkan, bertemu prisma yang kemudian dibengkokkan, atau bertemu partikel-partikel yang kemudian disebarkan.

Di siang hari, saat kamu memandang langit terlihat berwarna biru, secara tidak kamu sadari kamu tengah memandangi atmosfer Bumi atau dapat dikatakan udara. Walau terlihat tidak kasat mata, sesungguhnya udara terdiri dari banyak partikel lho! Yang terbesar adalah nitrogen, disusul kemudian oksigen dan terakhir adalah uap, polusi, dan partikel-partikel kecil lainnya.

Saat sinar matahari masuk ke bumi melewati atmosfer, maka cahaya yang semula putih kemudian disebarkan ke segala penjuru arah oleh partikel-partikel kecil di udara tadi. Sederhananya kejadian ini sama seperti ketika cahaya matahari menembus sebuah prisma. Perbedaannya saat menebus partikel udara hanya warna nila, ungu dan biru yang disebarkan ke segala arah, sedangkan merah dan jingga tetap berjalan lurus. Warna biru inilah yang kemudian banyak tersebar karena memiliki gelombang yang lebih pendek.

Kenapa Langit tidak berwarna ungu atau nila?

Kenapa Langit Berwarna Biru?
Rod dan Cone pada mata- Science news

Nyatanya warna yang disebarkan partikel-partikel udara bukan hanya biru, melainkan ada ungu dan nila. Lalu kenapa langit tidak berwarna ungu atau nila, padahal kedua warna ini memiliki gelombang lebih pendek dari biru? Jawabannya terletak pada reaksi mata kita. Di dalam mata terdapat dua sel yang bereaksi terhadap cahaya, yaitu Rod dan Cone. Rod memiliki sensitivitas terhadap cahaya redup dan terang, dan tidak memediasi warna yang kamu lihat. Sedangkan Cone bereaksi pada warna. Cone sendiri memiliki tiga macam, dan ketiganya bereaksi pada cahaya dengan panjang gelombang tertentu. Ketiga Cone sangat sensitive terhadap tiga warna yaitu, merah, hijau, dan biru. Maka Cone biru lebih peka terhadap warna biru dibandingkan ungu ataupun nila, jadi saat warna biru, ungu, dan nila tersebar ke udara, Cone biru hanya melihat warna biru walau ungu dan nila juga ada di sana.

Kenapa langit berubah warna menjadi merah dan jingga di sore hari?

Kenapa Langit Berwarna Biru?
Langit sore hari- Freepik

Saat matahari mulai terbenam dan mendekat ke langit, cahaya matahari melalui lebih banyak partikel di atmosfer untuk sampai di mata kamu. Hasilnya adalah warna biru kemudian disebarkan berkali-kali lebih banyak, dan memberikan kesempatan warna merah dan jingga untuk berjalan lurus lalu sampai ke mata kamu. Kesimpulannya warna langit dapat berbeda dan berubah tergantung dari mana kamu melihatnya dan dimana posisi Matahari berada.

Nah itulah penjelasan tentang kenapa langit berwarna biru. Untuk lebih memahaminya bacalah buku-buku ilmu pengetahuan terkait dan pelajari teori-teori terkait cahaya lebih dalam lagi. Jangan lupa baca juga artikel lainnya seputar sains dan teknologi di sini ya! Dan semoga kamu tetap menikmati memandangi langit!

Sumber: Space place NASA, Kok-Bisa, dan Forbes

Tags

You are special, you are unique, so don't try to copy others.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close