Populer

Abracadabra (2019): Sulap yang tak Sekadar Visual

AKUPAHAM.COM – Kostum dengan warna pastel yang kontras atau senada dengan latarnya, dominasi warna kuning dan merah yang diaplikasikan pada berbagai properti setnya, serta tone warna retro pada pewarnaan filmnya. Terdengar tidak asing bagi kalian yang dekat dengan karya-karya Wes Anderson, dan tentunya akan sangat terkesan melihat hal serupa pada sebuah karya dalam negri. Faozan Rizal, melalui karya terbarunya yang menjadi pembuka dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival pada November lalu, Abracadabra, membangun sebuah dunia fantasi dengan permainan visual yang menarik, yang dapat dinikmati di layar lebar mulai 9 Januari 2020 nanti. Melihatnya seperti menyaksikan sebuah kelahiran anak baru dalam perfilman Indonesia.

Film dengan visual yang berfantasi sebelumnya sudah pernah ada dalam Another Trip to the Moon (Ismail Basbeth, 2015). Manusia yang hangus tersambar petir di tengah hutan, pengangkatan jenazah oleh UFO; adalah segelintir contoh betapa Ismail Basbeth begitu ‘luar biasa’ dalam bermain visual. Ia nampaknya lebih peduli pada penggambaran visual dibanding kesinambungan cerita. Berbeda dengan permainan visual yang disuguhkan Faozan Rizal dalam Abracadabra. Ia tidak sampai hati menciptakan visual yang terkesan nonsens seperti karya Basbeth. Ia tidak setega Basbeth dalam meng-anak-tiri-kan jalan cerita.

Kemagisan Visual

Sumber: Youtube

Rizal, entah disengaja atau tidak, mengambil sedikit ilmu dari Wes Anderson dalam menciptakan kesan fantasi ke dalam filmnya, yaitu melalui permainan palet warna. Tokoh Lukman (Reza Rahadian), sang pesulap yang berencana mengundurkan diri dari dunia sulap, kerap mengenakan kostum yang berwarna senada dengan latarnya. Misalnya, ketika ia mengenakan setelan jas berwarna biru toska dengan kemeja kuning mustard dengan latar bangunan dan pagar berwarna serupa. Atau ketika kemeja kuning mustardnya kembali senada dengan dinding rumah di Pantai Rahasia.

Tim polisi yang dipimpin oleh seorang mantan pesulap gagal (Butet Kertaradjasa) juga mempunyai kantor dengan nuansa merah muda yang menarik sekaligus mengedepankan kesan polisi yang komedik dan ceria ketimbang menakutkan. Lalu ada mobil Lukman yang berwarna merah muda pastel dan bandara dengan warna redup yang nampak Instagram-able; semua desain produksinya dibuat sedemikian rupa agar memberi kesan surreal, ditambah kehadiran karakter-karakter unik ala pertunjukan sirkus seperti Rawit (Mbok Tun) dan Zakaria (Paul Agusta). Rizal tidak main-main dalam membangun sebuah dunia yang mampu membuat penonton benar-benar merasa seperti berada di suatu tempat penuh magis.

Cerita Penuh Trik Sulap

Walaupun tidak seperti Basbeth yang meng-anak-tiri-kan sense cerita, Rizal pun nampaknya belum cukup kuat dalam membangunnya. Beberapa subplot nampak muncul dan hilang begitu saja tanpa ada cukup penjelasan, sama seperti karakter-karakter yang hilang lalu muncul begitu saja dari kotak kayu ajaib milik Lukman.

Sumber: Tribunnewswiki

Alasan utama Barnas (Egy Fedly) menghilangkan dirinya sendiri ke dalam kotak, kisah antara Lukman dan Sofnila (Salvita Decorte) sang asisten sulap yang tiba-tiba muncul dari kotak, atau peran Penyihir Kembar (Valerie Krasnadewi dan Veronika Krasnasari) dalam pemecahan masalah Lukman dan orang-orang yang hilang dari kotaknya, terasa kurang digali dan dikupas. Latar belakang Kepala Polisi sebagai mantan murid ayah Lukman, Lukito (Landung Simatupang), yang gagal serta benang merahnya terhadap keinginannya mengejar kotak kayu ajaib juga tidak banyak dijabarkan.

Akhirnya, perjalanan Lukman dalam mengembalikan Iwan (M. Adhiyat), seorang anak yang hilang setelah ia masukkan ke dalam kotak pada pertunjukkan sulap terakhirnya yang menjadi premis awal film ini, nampak hanya menjadi sebuah pertunjukan sulap dengan properti panggung berwana catchy. Karakter-karakter pun datang dan pergi tanpa ada latar yang kuat walau cukup memberi kesan dengan keunikan dan komedinya, seperti hanya menjadi asisten sulap. Kejadian demi kejadian muncul lalu hilang begitu saja, meninggalkan berbagai tanya. Atau, memang itu tujuan utama Rizal dalam Abracadabra? Membuat film yang tak hanya melalui permainan visual, namun juga cerita yang membuat penonton seperti sedang menyaksikan pertunjukan sulap sungguhan; antara percaya dan tidak? Kok, bisa begini? Kok, tiba-tiba begitu? Ah, namanya juga sulap. Nikmati saja.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close